One X Player Sugar One: Handheld Android Dua Layar dengan Performa Serius
Pasar handheld Android sedang memanas, tetapi satu perangkat datang dengan konsep yang benar-benar beda. Desain lipat unik, dua layar OLED, dan performa ala flagship membuatnya tampak seperti Nintendo DS versi masa depan. Bodi kokoh, engsel baja yang presisi, dan pengalaman transformasi yang memuaskan mengemas kesan premium sejak unboxing pertama.
One X Player Sugar One hadir dari fase prototipe yang sudah diuji publik, lalu masuk ke tahap produksi dengan banyak masukan. Hasilnya terasa matang: engsel yang kliknya mantap, layout tombol ergonomis, dan kontrol yang otomatis menyesuaikan mode layar. Dua opsi warnaâhitam dan putihâmemberi kesan industrial yang tetap elegan untuk perangkat sehari-hari.
Singkatnya: ini bukan sekadar handheld Android, melainkan perangkat transformable yang membuka gaya bermain baruâdari emulator lawas hingga game mobile beratâdengan fleksibilitas layar ganda yang jarang ditemui.
Desain Transformable One X Player Sugar One dan Dua Layar OLED
Secara fisik, perangkat ini mengingatkan pada Nintendo DS yang tumbuh dewasa: kompak, rapi, dan terasa padat saat digenggam. Bobotnya sekitar 486 gramâcukup seimbang untuk sesi main panjang, namun masih nyaman dibawa mobilitas harian. Rangka aluminium dipadukan material PC/ABS menghasilkan konstruksi solid, sementara finishing halus memberi grip tanpa mudah meninggalkan sidik jari.
Keunikan utamanya ada pada dua layar OLED sentuh: panel utama 6,01 inci beresolusi 2160x1080, dan panel kedua 3,92 inci 1240x1080. Keduanya diklaim sekitar 450 nits, cukup untuk indoor cerah dan masih terbaca saat outdoor teduh. Karena dua-duanya touchscreen, navigasi terasa natural, baik saat mode satu layar maupun dual screen sekaligus.
Mode Dual Screen One X Player Sugar One untuk Emulator dan Multitasking
Mode ganda membuka use-case yang tak biasa: emulator DS/3DS terasa âpulang kampungâ dengan layout layar atas-bawah yang akrab. Pengguna bisa menaruh peta, chat, atau panduan game di layar kecil, sambil fokus bermain di layar utama. Untuk kerja ringan, layar kecil bisa memutar YouTube atau Spotify, sementara layar besar menjalankan game atau aplikasi utama. Transisi lipatnya juga memuaskan; joystick menempel ke magnet dengan klik yang rapi, lalu sistem otomatis menyesuaikan kursor dan orientasi.
Performa One X Player Sugar One dengan Snapdragon G3 Generasi Ketiga
Di balik desain futuristik, dapur pacu perangkat ini mengandalkan Snapdragon G3 generasi ketiga, CPU 8-core, dan GPU Adreno A32 yang sudah mengaktifkan ray tracing berbasis hardware. RAM 16GB LPDDR5X, storage 512GB UFS 4.0, plus ekspansi microSD hingga 1TB memastikan bottleneck minimal, baik untuk game Android berat, emulator PS2/GameCube, atau cloud gaming.
Angka benchmarknya impresif: AnTuTu menembus 2.432.658 poin; 3DMark Sling Shot dan Wild Life âmaxed outâ, menandakan performa di atas ambang uji standar perangkat mobile. Geekbench 6 mencatat 2.271 (single-core) dan 6.726 (multi-core). Di GFXBench, Aztec Ruins (OpenGL/Vulkan) stabil 60 fps, sementara T-Rex Offscreen mencapai 584 fpsâindikasi GPU yang bernafas panjang untuk workload grafis modern.
Sistem pendinginan memakai dual fan dan dual heat pipe, berdampak nyata pada kestabilan fps. Pengujian internal menunjukkan suhu puncak tetap terkendali dalam sesi panjang, sehingga performa tidak mudah throttling. Dukungan WiâFi 7 menghadirkan latensi rendah untuk cloud gaming, dan Bluetooth 5.3 memudahkan pairing ke controller eksternal atau earbuds TWS.
Pengalaman Gaming di One X Player Sugar One: Kontrol, Pendingin, dan Baterai
Kontrol menjadi salah satu sorotan. Hall effect joystick anti-drift memberi presisi dan konsistensi input, sementara tombol A/B/X/Y memakai microswitch dengan klik yang tegas dan tactile. Dâpad magnetik bisa dipasang cepat mengikuti mode layar, berguna saat berpindah dari platformer retro ke shooter modern. Ada tombol khusus âSugar Consoleâ untuk akses cepat: pengaturan mode daya, mapping tombol, refresh rate, RGB, hingga bypass charging.
Dalam pengujian game berat, perangkat ini menahan beban dengan percaya diri. Genshin Impact pada setting tertinggi 60 fps selama 30 menit mencatat rata-rata 59 fps, drop terendah 55 fps, dengan suhu sekitar 44 derajat Celsius. Call of Duty: Warzone Mobile preset High stabil di 59 fps, sesekali turun ke kisaran 50 fps, dan suhu puncak lebih rendah di sekitar 42 derajat Celsius. Artinya: pendingin aktif bekerja efektif, menjaga frekuensi dan fps tetap konsisten.
Baterai 5.600 mAh realistis untuk kelasnya. Sesi game berat di dua layar jelas lebih boros, tetapi 3â5 jam adalah angka masuk akal untuk handheld dual screen. Untuk penggunaan campuranâmultitasking ringan, emulator, dan game mobile menengahâdurasi bisa terdongkrak, apalagi bila memanfaatkan mode daya hemat atau menurunkan refresh rate.
Dari sisi ergonomi, bobot yang terdistribusi baik dan kontur grip membuatnya nyaman untuk tangan Asia. Posisi tombol power yang bergeser menyesuaikan mode dua layar adalah detail kecil yang terasa diperhitungkan. Engsel baja punya resistansi pasâcukup kuat menahan posisi, namun tetap ringan untuk dibuka-tutup cepat saat berpindah mode.
Kustomisasi menjadi nilai tambah. Melalui software, pengguna dapat menyimpan profil performa per game, mengatur peta tombol untuk emulator, dan menyinkronkan efek RGB agar senada dengan genre permainan. Ini bukan sekadar kosmetik; di game kompetitif, profil daya dan kurva kipas yang tepat bisa mengurangi micro-stutter dan menjaga stabilitas fps.
Dari sisi harga, perkiraan banderol di Tiongkok berada di kisaran 9â10 jutaan. Target pasarnya jelas nisheâpenggemar gadget unik, kolektor, dan enthusiast emulatorâtetapi inovasi desain dua layar yang benar-benar usable memberinya diferensiasi jelas. Jika butuh handheld Android âbiasaâ, alternatifnya banyak; namun bila ingin pengalaman baru yang multifungsi, di sinilah perangkat ini bersinar.
Baca juga: Lenovo Legion Go 2: Handheld Windows OLED 144Hz
Artinya: perangkat ini menggabungkan eksperimen desain yang berani dengan eksekusi teknis yang rapi, menjadikannya bukan sekadar gimmick, melainkan alat bermain yang adaptif dan bertenaga.
Kesimpulan
Daya tarik perangkat ini ada pada kebebasan memilih cara bermainâsatu layar untuk fokus, dua layar untuk fleksibilitas. Desain transformable terasa matang, performa konsisten, dan kontrol presisi memberi kepercayaan diri saat bermain kompetitif maupun nostalgia dengan emulator. Bagi yang mengejar sesuatu yang berbeda tanpa mengorbankan performa, handheld ini pantas masuk daftar pendek.
FAQ
Apakah perangkat ini nyaman untuk emulator DS/3DS?
Ya. Layout dua layar membuat antarmuka emulator terasa natural, dengan opsi layar kecil untuk peta atau touch input.
Seberapa lama daya tahan baterainya saat gaming?
Tergantung gim dan mode layar. Umumnya 3â5 jam; lebih hemat bila menurunkan refresh rate atau memakai mode daya efisien.
Apakah cocok untuk cloud gaming?
Cocok. WiâFi 7 memberi latensi rendah dan bandwidth lapang; hasilnya streaming game terasa responsif dan mulus.
Apa keunggulan kontrolnya dibanding handheld lain?
Hall effect joystick antiâdrift, tombol microswitch tactile, serta Dâpad magnetik yang fleksibel untuk berbagai genre.
Bagaimana performa di gim berat seperti Genshin Impact atau Warzone Mobile?
Pengujian menunjukkan rataârata 59 fps di Genshin (60 fps highest) dan stabil di 59 fps di Warzone Mobile, dengan suhu terjaga.






